Iqbal La Galigo Merefleksikan Budaya Luwu melalui Musik

Iqbal La Galigo lahir di Palopo 12 Maret 1978, seni begitu sangat berharga sebelum dan duduk di bangku sekolah sudah mulai menyukai musik.

Iqbal kemudian mulai menggeluti musik dengan serius saat menjejaki pendidikan di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia di Kabupaten Gowa, mengambil Jurusan Musik Karawitan, di sini ia memperdalam ilmu keseniannya dengan mempelajari musik-musik tradisional Makassar dan Bugis, dan sedikit mempelajari lagu-lagu Toraja.

Iqbal bersama rekannya membuat Grup Band yaitu Coll Band, prestasi yang mereka dapatkan selalu mendapat juara setiap mengikuti kegiatan festival band baik itu skala Makassar maupun se Sulawesi Selatan. Di kelas dua SMA ia kembali pindah sekolah dan akhirnya menyelesaikan sekolahnya di SMAS Batara Gowa Makassar.

Selepas SMA, ia melanjutkan studinya di salah satu perguruan tinggi yang ada di Bandung yaitu Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung dan kembali mengambil Jurusan Musik Karawitan. Selama di Bandung, Iqbal mulai membuat musik dalam mengiringi tari, teater atau pun musik yang berdiri sendiri, namu selama kuliah hanya sampai semester III saja dan kemudian kembali ke Makassar sebelum ke Luwu.

Berniat menggali potensinya, pada tahun 1998, Iqbal kemudian lebih memperdalam pengetahuannya tentang musik dan banyak bergabung dengan kelompok-kelompok musik.

Selama di Makassar, pada tahun 2002, ia bersama teman-temannya membuat kelompok musik Etrical Ritem Sound La Galigo (ERS La Galigo) dengan mengusung konsep musik dengan media dan bunyi-bunyi tradisional.

Setahun berlalu, Iqbal kemudian kembali ke kampung halamannya di Tana Luwu, melihat kondisi kesenian yang ada di berbagai wilayah yang semakin berkembang, sementara di Luwu tidak demikian. Tak lama ia pulang kampung, ia kemudian penampilan perdananya dengan melakukan pentas tunggal di Gedung Olahraga (GOR) Palopo.

Selama di Luwu, ia kemudian kembali mengajak teman-temannya untuk melakukan pembinaan pendidikan kesenian di sekolah-sekolah dengan membuat sanggar seni di setiap SMA yang ada di Kota Palopo. Setelah melalui pembinaan, mereka kemudian dibuatkan program pentas. Tidak hanya sampai di situ, Iqbal juga melakukan pembinaan di beberapa universitas yang ada di Kota Palopo dan membentuk beberapa sanggar seni di Luwu Timur dan Luwu Utara dan Luwu.

Pada tahun 2012 ia menikah dengan Suriani perempuan asal Cilallang, Kecamatan Kamanre, Luwu dan kini dikaruniai dua orang anak. Selama di Luwu ia juga menjadi Dewan Pembina di Sanggar Mantiro Ada’ di Bajo dan menjadi Ketua Generasi Pesona Indonesia (GENPI) hingga sekarang.

Iqbal sendiri bisa menggunakan beberapa alat musik tradisional seperti gitar, seruling, kecapi, pui-pui Makassar dan gendang. Kemampuannya yang menggunakan alat musik tradisional terus menghasilkan karya yang selalu senantiasa mengedepankan lagu daerah.

“Sudah ada sekitar 30 lagu, yang terdiri dari lagu daerah, pop dan melayu, alhamdulillah banyak disukai oleh masyarakat lokal maupun nasional, bahkan sudah banyak lagu saya yang di cover dan dinikmati banyak orang,” imbuh Iqbal La Galigo saat di temui di kediamannya, Minggu (07/03/21) lalu.

Adapun beberapa lagu yang ia ciptakan dan sangat populer adalah Suruganna Lino, Wija to Luwu, La Acong na la Enceng, Manjo omi, Mapaddi Dikka, Baca-bacanna Corona dll.

Reporter. : Yusuf Gerhana
Penulis.    : Yusuf Gerhana
Editor.       : Alam Akkitanawa
Source.     : Majalah Kampung Pakde

Written by 

Related posts

Komentar