Perjuangan Sekolah Budaya Melestarikan Budaya Luwu

Belopainfo–Zaman tak pernah berhenti. Ia terus bergerak begitu cepat. Kini, kita tak lagi memiliki batas-batas. Sains dan teknologi memberikan perubahan yang sangat besar bagi masyarakat mulai dari segi lingkungan, sosial, dan nilai-nilai budaya.

Setiap perubahan, memiliki hal yang positif, namun di sisi lain juga menimbulkan dampak negatif. Salah satunya, dengan mengadopsi budaya luar, kemudian melupakan secara perlahan nilai-nilai budaya lokal.

Di Luwu, sangat terlihat jelas adanya pergeseran nilai-nilai budaya di kalangan masyarakat. Nilai-nilai Sipakainge (saling mengingatkan), Sipakatau (saling memanusiakan dalam kondisi apa pun), dan Sipakalebbi (saling menghargai satu sama lain).

Nilai itu sudah mulai luntur dan bahkan generasi sekarang banyak yang tidak mengenal itu. Oleh karena adanya panggilan jiwa untuk mengembalikan nilai dan adat budaya Luwu secara perlahan mulai luntur itu, Sharma Hadeyang sebagai pengagas sekolah budaya, kemudian mengajak beberapa rekannya untuk bersama-sama bergerak dalam melestarikan nilai-nilai budaya Luwu.

“Ada kerisauan tersendiri sebagai generasi muda melihat perkembangan zaman, ada nilai-nilai yang tergusur yaitu nilai-nilai masyarakat Luwu,” kata Sharma Hadeyang selaku penggagas sekolah budaya

Sharma Hadeyang, Andi Muhammad Arfan Basmin, Fadjri, Ahmadi Abbas, Dr. Andi Muhammad Aji Guna Saddakati, Misbah dan beberapa fasilitator diantaranya Tendriawati, Andi Samsuddin, Tasdim Tahrir bahu membahu untuk melestarikan nilai-nilai budaya Luwu.

Baca Juga :  Bupati Luwu Berterimakasih ke Kepala BKPSDM

“Atas dasar itulah, kami coba komunikasi dengan bupati dan dewan adat 12 terutama kepada yang mulia Datu Luwu mengenai sekolah budaya hasilnya sangat direspon positif. Maka didirikanlah Sekolah Budaya Lagaligo pada 18 November 2019, kebetulan saya memiliki lembaga atau yayasan yang bergerak dalam kebudayaan sejak tahun 2010 dan itulah yang menjadi payung hukum sehingga bisa berdiri sebagai sekolah nonformal di bawah koordinasi dengan Dinas Pendidikan,” terang Sharma.

Sejauh ini, sudah 4 kali dilakukan penamatan atau yang lebih dikenal dengan istilah mappatemme sikola dan sudah meluluskan 234 alumni yang berasal dari para tenaga pendidik, tim penggerak PKK kabupaten, kecamatan dan desa, Dharma Wanita dan ada beberapa camat dan kepala desa. Adapun masa pembelajaran selama 2 bulan lebih hingga penamatan (mappatemme) untuk satu angkatan, dalam 1 kelas terdiri dari 50-70 orang dengan waktu pembelajaran sekali dalam sepekan dari pukul 13,00 s.d 17,00 sore.

“Mengapa tenaga pendidik, PKK, camat dan kepala desa dilibatkan sebagai peserta, karena mereka akan nantinya akan diberdayakan setelah menjadi alumni menjadi agen-agen budaya di wilayah masing-masing dan kalau guru akan mengadi agen di sekolah,”harap Sharma.

Baca Juga :  Jelang Ramadan, Bupati Luwu Ajak Masyarakat agar Tetap Patuhi Protokol Kesehatan

Khusus untuk kepala desa dan camat, keterlibatan mereka tak lain untuk menanamkan nilai-nilai kepemimpinan berdasarkan kebudayaan Luwu. Nilai-nilai kepemimpinan yang di maksud seperti lempu (kejujuran), getteng (keteguhan), tongeng (kebenaran) dan adele (adil), itu semua yang harus dibangkitkan kembali. Bagi Sharma, kita memiliki nilai-nilai budaya tapi seakan-akan hilang.

Sedangkan untuk materi atau konten, berbagai matari tentang Luwu, mulai dari cara membaca naskah I Lagaligo, nilai-nilai budaya Luwu, tentang pakaian adat, seni dan olahraga tradisional. Hal lain dilakukan yakni kunjungan ke objek wisata sejarah seperti ke Kedatuan Luwu, Baruga Latamaccelling di Baebunta Luwu Utara, hingga ke Malangke ziarah ke makam Datu Sulaiman dan Raja Luwu ke 15.

“Sekolah budaya tentu menghadirkan fasilitator yang sudah tentu lebih mengenal nilai-nilai kebudayaan Luwu diantaranya Dewan 12 Kedatuan Luwu, orang-orang profesional pada bidang-bidangnya seperti seperti Wahyu Sibenteng, Andi Aji Saddakati, dll,“ jelasnya.

Sekolah budaya  Lagaligo juga sifatnya gratis tidak dipungut biaya, kecuali untuk mendanai foto copy dokumen, membuat baju seragam, di situ baru mereka siapkan biaya. Sedangkan untuk konsumsi peserta di setiap perempuan, peserta membawa bekal sendiri. Sementara untuk fasilitator dan pemateri ditanggung oleh pengelola.

Baca Juga :  Tradisi Pernikahan Luwu : Membangun Rumah Cinta, Langkah Pertama Mabbalao Cici

Hal menarik dari Sekolah Budaya Lagaligo ini, karena ini dikelola dengan berbasiskan altruisme. Sikap-sikap altruisme, pun akhirnya ditampilkan setiap pemateri yang datang berbagi gagasan. Walaupun pihak penyelenggara menyiapkan dana untuk pemateri, tapi rata-rata pemateri menolak untuk diberi imbalan. Prinsip untuk melestarikan budaya membuat mereka rela berkorban tak menerima imbalan.

Sekolah Budaya Lagaligo sudah memperingati HUT pertama dengan agenda ziarah ke Taman Makam Pahlawan Opu Daeng Risadju,  kerja bakti di Bubung Parani dan mengambil “air suci” Malekkowae di Senga, beberapa kegiatan olahraga dan seni tradisional bagi alumni dan peserta belajar Sekolah Budaya Lagaligo. Sharma Hadeyang, punya harapan besar, semoga sekolah ini semakin eksis dan semakin banyak orang-orang yang ikut terlibat dan mengambil peran di dalamnya. Berempati untuk mengembalikan nilai-nilai budaya Luwu. Berjuang bersama agar nilai-nilai budaya Luwu dapat lestari dan tetap tertanam pada generasi berikutnya.

Reporter : Yusuf Gerhana
Penulis. : Yusuf Gerhana
Editor. : Alam Akkitanawa

Written by 

Related posts

Komentar