Tradisi Mapacekke Wanua Upaya Tolak Bala

Belopainfo–Salah satu tradisi di Luwu di kenal dengan istilah Mapacekke Wanua artinya mendinginkan rumah (Kampung). Untuk mendinginkan suasana atau menciptakan suasana harmonis dan dinamis yang akan mendatangkan berkah berupa kedamaian dan kesejahteraan bersama.

Tradisi ini diyakini masyarakat Luwu sebagai upaya untuk mendinginkan suasana atau kadang juga dijadikan sebagai metode tolak bala atau penangkal bencana (penyakit, bahaya dsb). Misalnya, dulu pernah terjadi wabah penyakit menular di satu kampung, sehingga metode ini di gunakan masyarakat setempat sebagai upaya pengobatan (mendinginkan) atau Mapacekke.

Tidak hanya itu, masyarakat Luwu dulunya juga menerapkan tradisi ini sebelum membangun atau saat ingin memasuki rumah baru, masyarakat melakukan tradisi Mapacekke Wanua sebagai simbol.

“Apa yang dibersihkan adalah pikiran dan hati dengan keikhlasan membangun rumah dan meyakini rumah itu akan menghadirkan kebahagiaan dan kedamaian,” terang Opu Andi Saddakati dilansir dari Majalah Kampung PakDe.

Di masa sekarang ini, tradisi adat Mapacekke Wanua juga rutin diadakan setiap tahun dalam rangka memperingati hari jadi Kota Belopa yang bertepatan pada tanggal 13 Februari. Sebelum dilaksanakan upacara di lapangan, di awali dengan acara Mapacekke Wanua.

Dalam tradisi Mapacekke Wanua ada tiga tahapan yang harus di lalui, yang pertama, Mallekke Wae atau mengambil air. Kedua adalah Maddoja Roja atau menjaga dan membacakan doa di malam hari hingga pagi, setelah itu dilakukan tahap terakhir yaitu Mangeppi Wae atau memercikkan air.

Pada prosesnya ada beberapa rangkaian yang dilakukan dalam Mallekke Wae, yaitu dengan cara di pagi hari pada pukul 08:00 WITA, dengan mengambil air di tempat-tempat tertentu yang sudah di yakini sebagai sumber air bersih (suci) di Bubung Parani yang ada di Senga. Setelah itu air yang diambil di Bubung Parani kemudian diarak menuju Baruga Arung Senga di atas pangkuan seorang gadis yang yang belum aqil balik (tenna wette dara) sebagai simbol kesucian.

“Proses ini dianggap sebagai simbol kesucian, anak itu dianggap masih suci, belum memiliki pikiran jahat dan itu yang akan mengambil air karena tidak dibolehkan orang tua, dan sekali lagi itu adalah simbol,” kata Opu Saddakati.

Setelah di baruga, kemudian di malam hari dilakukan proses Maddoja Roja menjaga atau membacakan doa, prosesi ini dilakukan acara barazanji atau bacaan puji-pujian yang berisi riwayat Nabi Muhammad saw. Proses ini dilakukan hingga pagi hari.

Setelah itu, paginya dilakukan Mangeppi Wae memercikkan air yang sudah dijaga dari kemurnian dan kebersihannya keseluruhan penjuru kampung.

Sumber : Majalah Kampung PakDe
Editor. : Alam Akkitanawa

Written by 

Related posts

Komentar