Tradisi Pernikahan Luwu : Membangun Rumah Cinta, Langkah Keempat: Mappacci

Belopainfo–Setelah beberapa rangkaian telah dilalui, sekarang adalah waktu yang telah ditetapkan oleh sandro/tetua agama sebagai hari yang baik, maka dilakukanlah acara mallekke pacci atau mengambil pacci.

Pacci merupakan jenis tanaman yang daunnya dapat digunakan dalam proses pernikahan masyarakat Luwu. Daun ini kemudian diasosiasikan dengan kata “paccing” atau bersih. Tradisi mappacci dilakukan pada malam hari selama tellumpenni berarti tiga malam berturut-turut.

Acara mappacci dilakukan untuk membersihkan jiwa dari seluruh anggota keluarga dekat atau tomasiri dari calon mempelai, di dalam memberikan doa restu yang ikhlas atas perkawinan yang  akan dilaksanakan setelah melalui acara mappacci tersebut.

Dalam acara ini, mempelai didudukkan di atas pelaminan sambil meletakkan kedua telapak tangannya di atas sebuah bantal yang diterangi lilin lalu secara bergantian seluruh anggota keluarga dekat atau handai tolan atau tomasiri‘ dari calon mempelai mengambil sejumput pacci yang kemudian dengan hikmat diusapkan di atas telapak tangan calon mempelai.

“Hal ini melambangkan ikrar dari anggota keluarga tersebut, bahwa dia dengan rela dan dengan hati yang putih bersih serta ikhlas didalam memberikan doa restu di dalam perkawinan tersebut,”imbuh Andi Saddakati Arsyad (Opu Matoa Lalengtonro)

Pada prosesi ini, anggota-anggota keluarga yang terdekat biasanya “massolo” atau memberikan hadiah kepada calon mempelai sebagai tanda syukur dan terima kasih kepada mempelai berhasil berhasil menjaga diri atau martabat keluarga sehingga perkawinan yang sempat dirayakan secara adat dan terhormat.

Sementara itu, apabila calon mempelai adalah “ana’ mattola” atau putra/putri bangsawan yang lahir pada saat orang tuanya menjabat sebagai Datu Luwu,
maka dilakukanlah acara “mangngaru” yang dilakukan oleh anggota Dewan Adat 12 Kedatuan Luwu (Ade Seppulo Dua) yang mewakili seluruh rakyat Luwu.

Pada prosesnya, ade seppulo dua bergiliran berdiri dihadapan  mempelai sambil menghentakkan kakinya pada saat dia menghunus keris dan mengacungkan nya ke hadapan mempelai sambil mengucapkan ikrar sebagai pernyataan kesetiaan atau loyalitas.

“Dengan selesainya acara mappacci, maka kesalahpahaman yang mungkin terjadi sebelumnya, sejak proses mabbalao cici’, mammanu’ manu’ dan madduta  semuanya dianggap sudah bersih sama sekali,”tutup Andi Saddakati Arsyad budayawan Luwu ini.

Reporter.  : Yusuf Gerhana
Penulis.    : Yusuf Gerhana
Editor.       : Alam Akkitanawa

Written by 

Related posts

Komentar