Cerita Pengrajin Atap Daun Sagu di Desa Kadong-Kadong

Belopainfo–Nurhaeni (44) merupakan penghasil atap daun sagu yang tetap bertahan puluhan tahun di tengah semakin majunya teknologi pembuatan atap rumah seiring perkembangan zaman.

Bertempat di Desa Kadong-Kadong, Kecamatan Bajo Barat Luwu, Nurhaeni mengaku dirinya membuat atap daun sagu sudah sejak kecil. Keterampilannya berawal dari orang tuanya.

Pembuatan atap sendiri membutuhkan keterampilan khusus. Namun bagi Nurhaeni yang sudah ahli dalam proses pembuatan atap sagu hanya membutuhkan waktu 5 menit untuk membuat satu atap anyaman dengan ukuran dua meter. Ia bahkan dalam sehari bisa menganyam 50 puluh lembar daun sagu.

Dalam proses pembuatan atap sagu, Nurhaeni mengaku bahwa tidak mengalami kesulitan kecuali pada saat menjahit dan tali yang digunakan putus.

“Sebenarnya tidak sulit, hanya saja terkadang kulit pelepah sagu yang dijadikan tali sebagai perekat terkadang putus, kalau sudah putus ya harus di sambung lagi,”imbuhnya saat ditemui di tempat biasa ia bekerja, Selasa (15/06/21).

Selain itu, bahan baku pembuat atap sagu cukup mudah didapatkan di Desa Kadong-Kadong karena desa ini masih diapik oleh pegunungan yang rimbun dan perkebunan di mana pohon sagu banyak tumbuh.

Adapun bahan dasar yang digunakan antara lain daun sagu, kemudian bintit atau tali benang dari pelepah sagu, mengkawang atau kayu yang digunakan dari ranting pohon atau bambu.

Sekalipun atap sagu ini mudah dibuat. Namun di lain sisi, sekarang ini, sudah banyak rumah yang menggunakan atap modern, sehingga pemesanan atap daun sagu juga semakin berkurang bahkan sangat jarang.

Nurhaeni mengatakan bahwa hampir 10 tahun tidak ada pesanan atap sagu, barulah tahun ini, ia mendapat pesanan sebanyak 300 atap. Ia juga menurunkan keahliannya pada anaknya Winda Sari (22) karena menganggap bahwa keahlian tersebut harus diturunkan secara turun temurun walaupun zaman sudah berubah.

“Walaupun pesanan sangat jarang, keahlian ini akan tetap terjaga dan akan diturunkan secara turun temurun karena ini adalah keahlian yang diturunkan orang tua ke saya dan itu tidak boleh terputus,” tutup ibu Nurheni.

Reporter. : Yusuf Gerhana
Penulis. : Yusuf Gerhana
Editor. : Alam Akkitanawa

Written by 

Related posts

Komentar