Tradisi Pernikahan Luwu : Membangun Rumah Cinta, Langkah Ketiga: Mappatettong Baruka (Mappatettong Sompung)

Pada hari yang ditetapkan atau yang dipilih sebagai hari baik oleh “sanro” atau dukun maka dilakukan secara “mappatettong baruka” artinya mendirikan baruka.

Baruka adalah bangunan yang sengaja didirikan terpisah sama sekali dengan rumah di kediaman yang dibuat untuk melaksanakan acara atau upacara tertentu yang didalam peristiwa ini adalah untuk acara perkawinan. Bangunan Baruka  ini merupakan bagian dari serangkaian simbol-simbol dari sistem sosial masyarakat Luwu,Tradisional untuk menciptakan ketertiban sosial
(sosial order).

Jenis baruka ini terdiri dari beberapa tingkat sesuai dengan tingkat kedudukan sosial atau “onro” dari kedua orang tua mempelai. Pada strata yang paling rendah bangunannya di sebut “sompung” atau “tamping” yang di buat dengan memperluas lantai rumah kediaman pada bagian samping kiri, dengan lantai yang agak rendah dari lantai rumah kediaman.

Kalau di dalam acara tersebut akan dihadiri pejabat-pejabat atau bangsawan-bangsawan setempat maka bagian samping kanan rumah kediaman diperluas tapi dengan lantai yang sama tingginya dengan lantai rumah kediaman.

Untuk keperluan upacara perkawinan yang lebih tinggi tingkatannya/derajatnya selain “tapping” maka bagian depan rumah kediaman di perluas lagi dengan diberi atap yang berhubungan yang diberi anjong atau semacam hiasan di puncaknya yang tingginya lebih rendah sedikit dengan dari hubungan atap kediaman. Bangunan ini disebut “Pasoso” dengan tangga yang diberi atap yang berhubungan serta beranjong pula yang disebut “sapana” dan di depannya didirikan “Lego-lego” bangunan ini disebut “surapo”.

Sedangkan tingkat upacara tertinggi digunakan bangunan khusus yang sengaja dibuat terpisah sama sekali dengan rumah kediaman yang selain memiliki tapping, tangke balla dan pasilo dan pasoso dua susun yang juga memiliki surapo, lego-lego dengan tangga sapana dan suraping. Bangunan ini disebut “baruka” seperti yang nampak digunakan dalam upacara perkawinan.

Maggattung

Setelah acara mappatettong baruka selesai maka dilakukan acara “maggattung” (menggantung) di dalam acara ini dilakukan secara menggantung atau memasang “sau lari” yang terbuat dari lembaran-lembaran kain putih yang digantungkan sejajar dengan setiap rangka Baruka, kemudian digantungkan pula “calan ware” yaitu lembaran kain putih yang digantungkan sejajar dengan rangka bangunan Baruka bagian atas yang merupakan lembar Baruka tersebut.

Baik sau lari sado semula maupun calana ware diberi atribut-atribut berupa periuk yang berisi beras, telur dll, yang disebut “bataleng” yang melambangkan kehidupan di kayangan,”kata Opu Saddakati salah satu budayawan Luwu

Bagian terakhir acara ini adalah memasang selembar kain putih di depan (linro baruka) yang mudah nampak dari luar Baruka. Atribut ini memberi pertanda kepada khalayak ramai bahwa Baruka tersebut, telah digunakan secara resmi. Acara menggantung itu adalah perlambang penciptaan “dunia atas” yang di dalamnya mitologi masyarakat Luwu tradisional disebut “Botting Langi” atau kayangan.

Mappatettong Lamming (Mendirikan Pelaminan

Sesudah acara maggattung selesai maka dilakukan acara “mapptettong lamming” atau mendirikan pelaminan, di dalam acara ini adalah perlambang terciptanya dunia tengah atau bumi yang di dalam mitologi masyarakat Luwu disebut “peretiwi” tempat manusia hidup dan berkembang biak, hidup dan mati.

Dengan terciptanya toddang toja, botting langi, peretiwi maka lengkaplah terciptanya alam raya atau kosmos, di mana manusia dan para dewa melaksanakan segala kegiatan-kegiatannya. Dan sekaligus berarti bahwa acara inti seluruh rangkaian mata acara dan upacara perkawinan adat Luwu ini telah siap untuk dilaksanakan.

Sumber : Majalah Kampung Pakde

Written by 

Related posts

Komentar