Membangun Desa Dari Transformasi Ide dan Sudut Pandang Berbeda

Belopainfo — Tercatat ada 74.961 desa dari 434 kabupaten/kota seluruh Indonesia. Sementara di Sulawesi Selatan ada sekitar 2.225 desa, sedangkan di Kabupaten Luwu terdapat 207 Desa.

Bacaan Lainnya

Dari sebagian orang masih banyak yang melihat desa dengan kacamata yang absur, menganggap desa, semata-mata hanya sebagai kampung, tingkat pendidikan masyarakat masih kurang, pembangunan di desa masih itu-itu saja.

Namun, Andi Muhammad Arfan Basmin Mattayang melihat dengan kacamamata yang berbeda, setelah menjadi Kepala Desa pada tahun 2019. Arfan melihat dengan kacamata desa dari sisi peluang, bagaimana memanfaatkan semua sumber daya yang ada di dalam desa dan memanfaatkan anggaran yang ada untuk kepentingan pembangunan desa.

“Di Desa, secara tidak sadar sampai hari ini kita besar di Republik ini adalah sebagai daerah yang menjadi tulang punggung dari sebuah negara, dari sekian desa yang ada di Kabupaten Luwu. Semua muara pembangunan mengarah di sana, sekarang bagaimana kita bisa menjadi seorang pemimpin yang mampu menjadi nahkoda mengarungi samudra bersama masyatakat,” jelas Andi Muhammad Arfan Basmin. Senin (14/11/22).

Andi Muhammad Arfan Basmin Mattayang

Dalam mengubah kondisi desa, Arfan memiliki prinsif bahwa untuk mendapatkan sebuah perubahan harus ada transformasi, inovasi, kolaborasi yang mampu mendongkrak itu semua dengan memanfaatkan sumber daya yang ada, salah satunya adalah bagaimana pemerintahan betul-betul berjalan secara inovatif dan transparan, dengan begitu banyak problem yang ada di desa yang hampir semua mengelola dana desa seperti mengolah buah simalakama.

“Harus ada konsep baru di pemerintahan, yaitu inovasi digitalisasi atau transformasi digitalisasi yang dapat memberikan dampak di semua sektor, pertanian, kesehatan, pendidikan, dan pelayanan pada umumnya,” tegasnya.

Arfan menilai, Pemerintahan itu harus terbentuk secara jujur dan transparan, upaya tersebut telah ia lakukan pada akhir tahun 2019 dan memberikan perubahan di Senga Selatan dengan memberikan pelayanan tepat sasaran, pelayanan yang cepat, mudah dan dapat diakses dengan mudah oleh pemerintah maupun masyarakat.

“Hampir bisa dibilang pelayanan di pemerintahan desa masih pakai sistem manual, misalnya ingin mengurus, masih harus datang dan menunggu, yang mau kita ubah bagaimana mempercepat pelayanan di desa, sehingga lahirlah inovasi-inovasi digitalisasi yang kami terapkan dan itu merujuk regulasi UU nomor 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi,” urainya.

Berangkat dari situlah Desa Senga Selatan sekarang memiliki berbagai macam inovasi di sektor digitalisasi mulai dari aplikasi, website sampai pada buku tamu digital, bahkan Desa Senga Selatan punya Command Center dan itu merupakan satu-satunya Command Center yang ada di Sulawesi Selatan.

Bersambung…

Penulis: Ysf

Pos terkait