Jalan Kontroversi Kahar Muzakkar (2)

part2

Siaran kilat itu menyebutkan bahwa tawanan-tawanan Corps Tjadangan Nasional  akan dibebaskan sebelum tanggal 7 Agustus 1951, mereka akan bergabung dalam gerakan anti pemerintah yang akan dipimpin oleh Kahar. Setelah itu, ia beserta pasukannya meninggalkan Batalion kemudian kembali ke hutan untuk bergerilya merekrut masyarakat pedalaman untuk menjadi anggota DI/TII. Mereka sengaja memilih hutan sebagai tempat bergerilya karena dianggap sulit diakses bagi tentara pemerintah.

Dalam upaya pemberontakan itu, pasukan Kahar bergerak dan berpindah-pindah, kemudian menjadikan beberapa daerah di Sulawesi Selatan menjadi tidak nyaman. Konon di masa pemberontakan, pasukan Kahar melakukan pembakaran rumah penduduk hingga pembunuhan masyarakat bila tidak mau bergabung dalam DI/TII.  

Bacaan Lainnya

Menurut Harsubeno yang dikutip dari Tirto.id bahwa gerombolan Kahar ini, mengincar orang dewasa, mereka memaksa para lelaki dewasa untuk bergabung dengan kelompoknya. Yang tidak mau akan dibunuh. Karena itu, banyak yang mengikuti kemauan Kahar dan bergabung dalam gerakan pemberontakan karena terpaksa.

Tak hanya dalam urusan nyawa yang jadi ancaman di masa gerombolan, urusan menyembah Tuhan pun terbawa-bawa. Paksaan mengikuti keyakinan beragama tertentu—Islam versi Kahar—tak luput dalam pola gerakan yang dibangun. Apalagi sebelum Islam datang di Sulawesi Selatan, orang-orang Sulawesi di wilayah pedalaman sudah lama memeluk agama lokal yang secara kontras dengan keyakinan Kahar tentang Islam yang begitu keras. Sebelum Kahar dan pasukannya datang Islam yang dianut orang Sulawesi Selatan terbilang ramah terhadap adat kebiasaan masyarakat. Islam seperti biasanya merujuk kepada Islam mengedepankan nilai dibanding formalitas Islam. Islam seperti ini adalah Islam tasawuf.

Fenomena pemaksaan masuk Islam oleh versi Kahar disampaikan oleh salah satu penasihat hukum gerilyawan di sekitar Baebunta dan Malangke, Muntaha Dg Malompu. Menurut Muntaha saat ditemui di kediamannya mengatakan bahwa Islam yang diajarkan Kahar begitu keras. Ajaran Kahar banyak membidahkan warisan leluhur. Sebelum Kahar datang dengan keyakinan kerasnya, masyarakat beragama Islam banyak mengajarkan nilai-nilai tasawuf.

Menurut Eko Rusdianto dikutip dari Tirto.Id, menemukan beberapa cerita soal pemaksaan agama Islam di Luwu oleh jaringan gerombolan Kahar Muzakkar. Ekspansi itu hingga ke wilayah Luwu Timur. Di saat ada upacara hari kemerdekaan Indonesia di lapangan Timampu, seorang anggota dari gerombolan berpidato isinya: mengharuskan semua orang menganut agama Islam.

Kahar dalam membatalkan kesepakatannya dengan Letkol J.F Warrou kemudian melakukan pemberontakan, tidak terlepas dengan pertemuannya dengan Kartosuwiryo. Ternyata pertemuan yang terjadi pada Januari 1950 itu, Kartosuwiryo mengajaknya untuk mendirikan Negara Islam Indonesia (NII). Adanya sikap memberontak Kahar, membuat APRI pusat tidak lagi melakukan perundingan dan memberikan kesempatan kepada Kahar Muzakkar beserta pengikutnya dan APRI membubarkan CTN secara hukum sejak 17 Agustus 1951.

Baca Juga : Jalan Kontroversi Kahar Muzakkar (1)

Perdana Menteri Sukiman, mewakili pemerintah menyuarakan surat perintah kepada APRI untuk mencari dan menghukum Kahar Muzakkar beserta pengikutnya melalui operasi Militer. Dalam proses operasi beberapa kali pemerintah membuka perundingan dengan pihak Kahar namun langkah itu beberapa kali gagal total disebabkan karena Kahar Muzakkar memiliki kepribadian yang begitu keras, terlebih lagi pembukaan perundingan oleh pemerintah dibalasnya dengan berbagai pemberontakan di berbagai wilayah di luar kekuasaannya pada tahun 1965.

Dalam catatan sejarah, perlawanan pemerintah  melalui operasi militer secara garis besar terbagi dua periode. Periode pertama yakni TT VII/Wirabuana yakni melaksanakan operasi militer berlangsung pada tahun 1951-1957. Sedangkan periode Kodam XIV Hasanuddin berfokus membubarkan Negeri Islam Indonesia (NII) sekaligus membubarkan dan membasmi Tentara  Kemerdekaan Rakyat atau DI/TII yang berlangsung pada tahun 1961.

Dalam proses pertempuran Kolonel Gatot Subroto yang memimpin APRI, memerintahkan Letnan Kolonel J.F Warrou membentuk satuan komando bernama Halilintar. Satuan komando inilah yang akan menjadi alat pemerintah dalam menumpas Kahar Muzakkar. 20 Batalion yang dikirim dari Jawa dan Indonesia Timur dianggap berhasil melakukan operasi dengan baik.

Dari berbagai laporan, satuan Komando Halilintar setidaknya melakukan operasi sebanyak 60 kali, yang terdiri dari 28 kali pembersihan, 9 kali patroli, 15 kali penyerangan dan 8 kali gerakan pembubaran. Dari operasi ini hanya mengalami kerugian terdiri dari dua orang gugur, lima orang luka-luka dan sebelas pucuk senjata hilang sedangkan pihak Kahar Muzakkar 70 orang meninggal, dua orang luka, dan 161 ditangkap.

Saat letkol J.f Warrou memimpin TT VII/Wirabuana, situasi bertambah rumit karena  muncul dua kelompok pemberontak. Kedua kelompok itu merupakan pecahan pasukan Kahar Muzakkar yakni Tentara Keamanan Rakyat yang dipimpin Hamid Gali dan Usman Balo dan pecahan TKR dengan nama TRI  yang dipimpin oleh Makkulau dan Andi Ismail. Mereka adalah mantan pasukan DI/TII yang pada akhirnya memisahkan diri menjadi kekuatan baru dalam melawan dan menggulingkan pemerintah.

Reporter : ENK
Editor      : AS

Pos terkait