Di Tengah Wabah Corona, Masyarakat Bastem Hadapi Persoalan Ini

Luwu-Rabu (01/04/2020). Bastem salah satu kecamatan di Kabupaten Luwu yang berada di dataran tinggi. Di tengah menghadapi kewaspadaan wabah virus corona/ Covid-19, masyarakat Bastem juga harus menghadapi masalah akibat musim hujan.

Beberapa minggu terakhir hujan deras mengguyur wilayah Kabupaten Luwu, menyebabkan sejumlah ruas jalan di Kecamatan Bastem terputus karena longsor. Jika bukan longsor maka warga harus berhati-hati dengan kondisi jalan yang licin saat mengendarai sepeda motor.

Bupati Luwu Basmin Mattayang telah menerbitkan surat edaran No. 555/323/DKISP/III/2020 tentang pencegahan virus corona untuk wilayah Kabupaten Luwu, yang memastikan adanya imbauan untuk tidak terlalu beraktivitas di luar rumah. Masyarakat Bastem mau tak mau harus tetap beraktivitas untuk memenuhi kebutuhan hidup. Salah satu cara mereka untuk memenuhi hal itu dengan membeli di Kota Palopo atau beberapa ibu kota kecamatan di Kabupaten Luwu.

Baca Juga :  Akibat Banjir Jembatan Gantung di Desa Malela Roboh

Bersamaan dengan itu, saat musim penghujan, sudah dipastikan masyarakat Bastem akan berhadapan dengan kondisi akses jalan yang buruk. Jalan poros Palopo-Bastem-Toraja tepatnya di Desa Bonglo terdapat 5 titik longsor. Longsor paling parah berada di dekat perbatasan Palopo dan Luwu yang merupakan satu-satunya akses masyarakat Bastem dari Palopo atau sebaliknya.

Begitu pun jalur Bua-Bastem-Toraja terjadi banyak longsor. Lebih 10 titik di mana jalan licin berlumpur sehingga tdak bisa dilalui kendaraan roda empat. Pengendara motor harus berusaha melewati lumpur yang menenggelamkan ban motor, agar kebutuhan mereka yang telah dibeli bisa sampai di desa.

Masyarakat Bastem bergotongroyong mengangkat motor melalui jalan longsor

Ridwan Bakokang, salah satu Anggota Legeslatif Luwu menjelaskan, dirinya telah memantau langsung kondisi jalan-jalan di Bastem yang dilaporkan warga tertutup karena longsor. Sejumlah jalan tetap bisa dilalui dengan bergotong-royong bersama warga. Namun beberapa titik yang parah tidak bisa dibuka karena tidak adanya alat berat yang digunakan. Hingga kendaraan harus dipikul agar dapat melalui tempat longsor tersebut.

Baca Juga :  Perkumpulan Wallacea: GAKKUM KLHK Harus Usut Tuntas Pelaku Tambang Ilegal Siguntu

Ridwan menambahkan salah satu jalan yang longsor tersebut adalah jalan yang baru saja dikerja dengan anggaran provinsi sebesar 6 miliar untuk pelebaran jalan.

“Bebarapa titik longsor bisa dilalui setelah mengajak warga bergotong-royong, namun beberapa titik tidak bisa dibuka hingga kendaraan harus dipikul,” kata Ridwan.

Beberapa masyarakat tidak mau mengambil risiko karena longsor hingga memilih melewati jalan lain untuk sampai ke kota. Jarak tempuh untuk masyarakat Bastem sebelum longsor kurang lebih 65 kilometer dan sekarang harus memutar melalui kecamatan Latimojong menuju Palopo yang jarangnya kurang lebih 100 kalometer.

Ridwan menambahkan, masyarakat Bastem saat ini harus berhadapan dengan dua persoalan yang sangat memengaruhi kehidupan masyarakat Bastem, selain adanya imbauan pembatasan aktivitas, namun untuk memenuhi kebutuhan yang hanya bisa di dapatkan di luar Bastem.

Baca Juga :  Pencegahan Covid-19, Desa Parekaju Sosialisasi dan Bagikan Masker Serta Penyemprotan Disinfektan

Selain itu, ada hal yang sangat disayangkan oleh Ridwan dan sebagia masyarakat Bastem. Keberadaan alat berat yang sejak dulu ditempatkan di Bastem untuk membantu masyarakat saat terjadi longsor, kini tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Jika bukan masyarakat sendiri berusaha maka tak akan jalan yang bisa dilalui. Sementara alat berat tersebut sudah harusnya difungsikan. Namun sudah 2 hari kondisi longsor yang menutup akses jalan, belum ada tanda-tanda alat berat difungsikan sebagaimana mestinya.

“Setahu saya alat berat itu sudah harus difungsikan sebagaimana mestinya, agar masyarakat tetap bisa melalui jalan. Apalagi saat ini musim hujan dan banyak longsor,” tutup Ridwan.

Reporter : CSD
Editor : AS

Written by 

Related posts

Komentar