Kala Bencana Datang

Musim hujan untuk wilayah Sulawesi Selatan telah tiba, sejumlah wilayah kabupaten Luwu diperkirakanakan kembali mengalami banjir. Sejak tahun 2018 hingga 2019 terdapat sejumlah tempat yang selalu menjadi langganan banjir.

Beberapa hal diduga menjadi penyebab banjir di Kabupaten Luwu, selain curah hujan yang tinggi pada musim hujan, kondisi hutan di daerah pegunungan sudah banyak terjadi alih fungsi lahan. Selain pembalakan liar, pembukaan lahan untuk perkebunan masyarakat diduga ikut menyebabkan peningkatan volume air sungai pada musim hujan dan terjadinya pendangkalan sungai.

Tahun 2018 hujan yang mengguyur wilayah Walenrang Lamasi (Walmas) membuat tanggul Sungai Lamasi di Desa Pompengan Selatan sepanjang 70 meter jebol. Mengakibatkan 150 rumah warga di 2 desa yakni Desa Pompengan Tengah dan Desa Pompengan Pantai Kecamatan Walenrang Timur terendam banjir. Hingga menyebabkan warga mengungsi karena ketinggian air mencapai 60 sentimeter hingga 1 meter.

Baca Juga :  Pembangunan Mako Brimob di Walenrang Berdampak Positif Bagi Daerah Luwu

Sementara di Kecamatan Larompong ratusan rumah di empat desa juga terendam banjir akibat curah hujan yang tinggi. Empat desa itu yakni Desa Rante Belu, Riwang, Buntu Matabing dan Bilante. Air setinggi paha orang dewasa sempat melumpuhkan jalan Trans Sulawesi. Banjir juga merendam sejumlah desa di Kecamatan Suli dan Suli Barat akibat sungai yang meluap.

Tahun 2019, pada musim hujan terdapat 6 kecamatan yang terendam banjir. Kecamatan Suli, Suli Barat, Larompong, Larompong Selatan, Kamanre dan Ponrang. Sekalipun tak ada korban jiwa namun diperkirakan banyak kerugian materil dan menghambat mobilitas warga karena jalan yang tak bisa dilalui. Dampak lain yang dirasakan masyarakat adalah air yang merendam persawahan, kebun dan merusak  tambak serta empang di wilayah pesisir.

Baca Juga :  Ketua KNPI Sulsel Minta Bupati Luwu Akomodir Pemuda di Birokrasi

Wilayah dataran tinggi atau pegunungan juga merasakan dampaknya seperti terjadinya longsor kecil dan besar yang bisa mengganggu dann memutus akses jalan masyarakat. Seperti jalan-jalan di kecamatan Bajo Barat, Latimojong, Bastem, Bastem Utara dan Walenrang Barat.

Bupati Luwu Basmin Mattayang dalam usaha menanggulangi bencana telah menandatangani MoU dengan pihak perguruan tinggi Univ. Hasanuddin yang berlaku selama lima tahun. Salah satu point penting dalam MoU ini adalah kerjasama penelitian untuk penanggulangan bencana banjir di Kabupaten Luwu. Bupati menargetkan hasil dari kerjasama ini adalah Kabupaten Luwu bebas banjir pada tahun 2022.

Baca Juga :  Untuk Meningkatkan Kapasitas Bendahara, BKPSDM Luwu Adakan Diklat Teknis Pengelolaan Keuangan

Hasil riset ini nantinya dapat merumuskan pola tindaklanjut dan antisipasi bencana banjir di Kabupaten Luwu. Utamanya beberapa kecamatanyang setiap musih hujan selaludilanda banjir,seperti Kecamatan Larompong, Larompong Selatan, Suli, Suli Barat, Ponrang, dan beberapa kecamatan lain.

Sementara untuk menghadapi musim hujan tahun 2020 Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Luwu telah melakukan rapat koordinasi dan mendirikan posko 2 siaga bencana. Posko Siaga bencana ini ditempatkan di Kecamatan Suli dan Kecamatan Walenrang, sebagai antisipasi dini ancaman bencana alam.

Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan adalah menjaga kondisi hutan di Kabupaten Luwu. Alih fungsi lahan yang tidak terkendali tidak hanya menjadi penyebab bancana juga dapat mempengaruhi sumber kehidupan masyarakat. Selain itu hal lain yang juga perlu perhatian adalah terkait tata kelola Daerah Aliran Sungai (DAS) untuk sungai-sungai yang setiap tahunnya meluap dan menyebabkan banjir. Sembari melalkukan riset untuk merumuskan pola tindak lanjut Pemda Luwu juga harus segera mengambil langkah konkrit dalam penanggulangan bencana.

Written by 

Related posts

Komentar