Belajar dari Sokrates Bagaimana Filsafat Sebenarnya

Filsafat sebagaimana dirumuskan oleh Sokrates adalah ilmu untuk berlatih mati sebagai sebentuk epimeleia heautou atau “perawatan diri”, dan diri itu tak lain adalah psukhe (jiwa), yang dalam filsafat Sokrates maupun Platon adalah subjek dari adagium gnothi seauton (kenali dirimu sendiri).

Dalam berbagai kitabnya, Sokrates yang digambarkan oleh Platon adalah seorang filsuf yang mengajari dengan perbuatan tidak hanya kata-kata. Raymond Martin dan John Barresi menuliskan bahwa saat Mahatma Gandhi ditanya ihwal inti dari ajarannya, dia menjawab “hidupku adalah ajaranku”, maka jika Sokrates pun dinyatakan hal serupa, tentu dia pun akan menjawab serupa, sebab “proyek yang paling paling penting dalam hidup adalah merawat jiwa seseorang”.

Bacaan Lainnya

Sokrates adalah filsuf atipik, yaitu filsuf yang sulit dicari padanannya di masa mana pun. Dia hidup sangat miskin, bahkan dikatakan bahwa dalam setahun dia hanya menggunakan pakaian yang sama setiap hari. Suatu hari, seorang murid Skorates melihatnya tengah menimbang-nimbang barang-barang mewah yang di pajang di depan sebuah toko. Muridnya tersebut menegur Sokrates dan bertanya mengapa Sokrates rajin ke pasar, padahal tidak pernah membeli apa pun. Sokrates menjawab: “setiap kali ke pasar, saya selalu tersadar bahwa begitu banyak barang yang sebenarnya tidak saya butuhkan.”

Bagi Sokrates, tidak mengapa jika kita yang mengalami ketidakadilan asalkan bukan kita sendiri yang berbuat tidak adil kepada orang lain. Dia menghormati hukum demokrasi itu dijalankan oleh demos alias massa beringas, dan untuk itu, dia bersedia mendapatkan hukuman yang tidak adil, yaitu harus meminum racun.

Bahkan, Aristophanes pun mementaskan sebuah teater pada 423 SM yang menggambarkan Sokrates sebagai pendidik yang dibenci orang, dengan “sekolah”-nya yang Aristophanes namai sebagai “Toko Pikiran”, yang dibakar ramai-ramai oleh warga Athena sehingga Sokrates pun lari tunggang langgang dan hampir tertangkap. Dalam lakon tersebut, Sokrates pun digambarkan sebagai homoseksual yang doyan memburu anak-anak muda, melalui penggambaran bagaimana murid-muridnya menungging-dengan bokong mencuat ke langit dan hidung menyentuh tanah ke arah Sokrates yang ada dalam keranjang yang tergantung di langit. (Belum lagi tudingan modern terkait homoseksual dan misoginis pada Sokrates maupun Platon yang tentu saja diwarnai bias kajian gender modern ataupun postmodern).

Selain itu, Sokrates pun digambarkannya sebagai sosok yang tak punya Tuhan, dan ini yang menjadi salah satu pangkal penyebab tuduhan atheos terhadap Sokrates, serba tuduhan mengajarkan moralitas baru yang berbahaya bagi anak-anak muda Athena. Fitnah Aristophanes ini pulalah yang kemudian banyak diulang-ulang oleh sebagian pemuka agama kepada para pengikutnya, sehingga dengan percaya dirinya para pengikutnya tersebut turut berpartisipasi menyebarkan fitnah tersebut, seolah fitnah itu adalah amar ma’ruf nahi munkar.

Sokrates memang dihukum mati salah satunya karena tuduhan atheos, alias tidak percaya dewa dewi, dan dia pun mengejek kepercayaan politeis tersebut. Sokrates pun sering bersumpah dan memanggil Tuhan dalam bentuk tunggal, yaitu ho theos, yaitu theos dalam bentuk neutrum yang berarti Tuhannya tuhan, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, ketimbang dalam bentuk jamak ho theoi yang menunjuk pada dewa-dewa polis. Dia juga tidak percaya pada dewa-dewa yang satu sama lain saling berperang.

Perlu diketahui juga, bahwa dalam masyarakat diketahui juga, bahwa dalam masyarakat Yunani, kata theos itu merujuk kepada sesuatu entah itu merujuk kepada sesuatu ada sebelum kita lahir dan akan tetap ada sesudah kita mati. Makanya, bagi orang Yunani, persahabatan pun adalah theos dan kekuatan alam juga disebut theos. Arti harfiah dari theos adalah ‘yang lahir’, dan itu tak harus berarti Tuhan.

Kembali kepada Aristophanes, konon lakon yang dipentaskannya tersebut cukup efektif dalam menyebarkan citra buruk atas Sokrates, sehingga warga Athena, polis yang dia bela dengan sangat berani saat masih muda, malah menjatuhkan hukuman mati terhadapnya.

Perlakuan tidak adil itu dia diterima dengan berani, dan dia menolak mentah-mentah ketika para muridnya mengusulkan agar menyuap penjaga penjara, sehingga dia bisa melarikan diri. Apa jadinya semua ajaran yang dia serukan selama ini kepada masyarakat Athena, bahkan dicontohkan melalui hidup yang dia jalani, apabila dia malah melarikan diri dari kematian.

Terlebih Sokrates sendiri menegaskan, bahwa filsafat itu adalah ilmu untuk belajar mati. Hanya philosoma (pecinta tubuh) yang takut menghadapi kematian. Maka, sejarah pun mencatat Sokrates sebagai korban pertama dari demokrasi.

Apakah itu berarti hidup yang Sokrates jalani berakhir dengan buruk? Tidak. Sokrates menganut pandangan truisme, yaitu bahwa semua yang ada dan terjadi dalam hidup ini hanyalah kebaikan semata. Kesalahan dan kejahatan hanya terjadi karena pelakunya tidak tahu dan tidak menyadari bahwa itu adalah salah. Bahkan, hingga saat ini dia meminum racun dan menjelang ajalnya, tak ada sedikit pun perkataan benci ataupun ekspresi dendam yang Sokrates lontarkan kepada Aristophanes. Perkataan terakhir hanyalah meminta Krito, salah seorang muridnya, untuk melunasi hutangnya.

Filsafat yang diajarkan oleh Sokrates bukanlah semata ‘intelectual exercise‘ untuk melatih nalarnya yang bisa membuat orang menyusun argumen sedemikian rupa sehingga misalnya agama dengan berbagai perintah dan larangannya jadi tampak picik dan kerdil. Sedangkan di sisi lain, bisa membuat hasrat si anak hilang dalam filsafat jadi tampak sedemikian terzalimi dan dibelenggu, sehingga satu-satunya jalan keluar adalah liberasi hasrat sebagai suatu kemestian yang tak terelakkan bagi kemanusian. Salah satunya seperti terlihat dalam wacana LGBT di abad 21 ini.

Filsafat yang diajarkan Sokrates adalah untuk mengajari tentang bagaimana hidup yang mulia dan berkeutamaan bukan sebatas olah pikir. Selama tu, Sokrates adalah seorang filsuf yang tidak pernah menuliskan ajarannya. Platonlah yang menuliskannya. Namun entah sudah berapa banyak aliran filsafat yang menyatakan diri sebagai pengikut Sokrates, menjadikan ajaran Sokrates sebagai landasan pemikirannya, menjadikan filsuf miskin itu sebagai rujukannya.

Tidak hanya sampai di situ, orang yang menjadi rujukan banyak aliran pemikiran dan filsuf kontemporer ini, dengan terang-terangan mengatakan bahwa dirinya disebut bijak karena justru dirinya tidak tahu apa-apa. Filsuf yang menjadi rujukan banyak pemikir sesudahnya hingga ribuan tahun ini adalah orang yang menyatakan dirinya tidak tahu apa-apa.

Di diri Sokrates, kita bisa melihat bagaimana wilayah privat dan publik itu tak terpisahkan. Pemisahan kedua hal tersebut adalah temuan modern. Pada diri Sokrates, kita masih melihat filsafat sebagai ‘cinta kebijaksanaan’ bukan sebatas permainan rigor (ketat) dan rumit logika serta asah nalar dalam wilayah wacana yang disebar ke publik, tapi juga kebijaksanaan dalam arti bestari dan arif, atau wisdom jika dalam bahasa inggris. Selain itu, kita pun masih bisa melihat asketisme, integritas antara yang Sokrates katakan dengan hidup yang dijalaninya serta keberaniannya mempertahankan perkataan tersebut dengan nyawa.


Oleh : Alfathri Adlin
Megister Filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta

Pos terkait