Dalam Daya Tarik dan Tolak Manusia

Atraksi dan repulsi atau daya tarik dan daya tolak yang berlaku atas seluruh tata penciptaan, dalam pandangan ilmiah modern sangat diyakini bahwa tidak ada atom pun dalam dunia wujud (materi) yang tidak tercakup dalam kekuatan atraksi dan repulsi.

Dulu orang tidak menemukan hukum atraksi umum yang universal, tetapi mereka telah menemukan atraksi pada beberapa jasad, dan mengetahui beberapa benda sebagai simbol gaya ini seperti magnet. Selain itu, tidak ada lagi pembicaraan seputar gaya atraksi dengan benda mati lainnya hanya mengenai bumi dipersoalkan mengapa ia tergantung di tengah langit.

Sudah menjadi kepercayaan bahwa Bumi tergantung di tengah angkasa dan tertarik pada segala sisinya, dan karena tarikan di segala sisinya maka wajarlah kalau tetap ia di tengah dan tidak miring ke salah satu sisinya. Sebagian orang percaya lagi bahwa langit tidak menarik bumi, malah menolaknya, dan karena yang memengaruhi bumi sama di semua sisinya maka bumi menetap di tempat tertentu dan tidak pernah berubah posisi.

Dalam kepercayaan lain tentang daya tarik dan daya tolak pada dunia hewan dan tumbuhan, sebagaimana yang kita tahu bersama bahwa tumbuhan dan hewan memiliki tiga daya alamiah pokok yaitu daya nutrisi (menyerap makanan), daya tumbuh, dan daya reproduksi. Untuk daya nutrisi kita percaya bahwa ada lagi kemampuan alamiah lainnya yang bersifat pelengkap, daya tarik dan daya tolak, daya cerna dan daya simpan. Daya tarik dari perut yang menarik makanan ke tempatnya, atau kadang menolaknya apabila ia tak berminat.

Atraksi dan repulsi dalam kehidupan manusia lain lagi. Ia punya kajian tersendiri. Ia bicara relasi individu manusia dengan kehidupan sosialnya. Proporsi terbesar dari persahabatan dan hubungan kasih sayang atau permusuhan dan kebencian. Gaya tarik dan gaya tolak ini berdasarkan kemiripan dan kesamaan umum atau perlawanan dan penolakan timbal balik.

Baca Juga :  Manusia Teknis Versus Makhluk Filosofis

Sesungguhnya penyebab utama dari tarikan dan tolakan harus dicari dalam hal kesamaan umum. Sebagaimana telah dibuktikan dalam pembahasan metafisika bahwa kesamaan umum adalah sebab dari kesatuannya. Menurut Murtadha Muthahhari akar dari gaya tarik dan gaya ini adalah kebutuhan dan pemenuhannya, bahwa manusia adalah makhluk yang membutuhkan, dan pada hakikatnya ia diciptakan dalam kebutuhan. Ia bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan dan mengisi kekurangannya.

Namun ini tidak akan mungkin terlaksana apabila ia tidak bersekutu dan mengikat hubungan dengan masyarakat, agar dengan ini ia dapat mengambil faedah dari persekutuan itu dan melindungi diri dari bencana yang mungkin datang dari kelompok lain. Dan kita tidak akan menemukan sesuatu kecenderungan atau penentangan pada manusia, selain dari pada yang timbul dari nalurinya untuk meraih keuntungan. Menurut teori ini, pengalaman hidup dan struktur watak primordialnya telah membentuk manusia sedemikian rupa untuk tertarik dan menolak, agar ia bergairah dalam apa yang dianggapnya baik dan menghindar dari apa yang tidak sesuai dengan tujuannya. Akan tetapi responsif terhadap apa yang tidak termasuk dalam dua hal tersebut yakni yang tidak akan memberinya manfaat atau mudarat.

Nyatanya tarikan dan tolakan adalah pilar yang fundamental dalam kehidupan manusia. Dalam hal gaya tarik dan gaya tolak sehubungan dengan individu lain tidak semua sama melainkan dibagi dalam empat golongan:

Baca Juga :  200 Tahun Silam, Aku Sudah Banyak Menderita

Pertama, pribadi yang tidak menolak dan tidak pula menarik. tidak ada yang menyenanginya tidak ada pula yang memusuhinya, mereka tidak menggugah cinta, simpati, atau rasa kasih maupun permusuhan, dengki benci, atau rasa jijik dari orang lain. Mahluk seperti ini tidak berarti apa-apa tidak menciptakan pengaruh, tidak memiliki sesuatu yang positif dalam pengertian baik dan buruk

Kedua, pribadi yang hanya menarik, tidak menolak. Mereka mufakat dengan setiap orang, mereka membuat seluruh kalangan manusia menjadi pengagumnya. Sepanjang hidup semua orang menyukainya. Sering dibayangkan bahwa karakter istimewa, basa-basi dalam pergaulan, atau dalam bahasa sekarang supel, tidak lain dari menjadikan semua manusia sebagai teman. Bagaimanapun hal itu tidak baik bagi orang yang berTuhan, yang mengikuti semua jalan yang mempunyai pola pikir dan ideal tertentu tanpa menimbang keuntungan bagi dirinya sendiri. Orang yang demikian, mau tidak mau hanya memiliki satu saja, bermuka dua. Orang-orang ini yang tidak dapat secara serentak menyukai satu orang, seorang insan yang benar-benar mengejar satu tujuan, yang akan berbenturan dengan kepentingan mereka. Satu-satunya orang yang dapat menarik persahabatan dengan seluruh kalangan masyarakat dan berbagai macam idealisme adalah orang yang berpura-pura dan berdusta, yang mengatakan dan memperlihatkan kepada setiap orang apa saja yang disukai orang itu.

Ketiga, orang yang hanya menolak, tidak menarik. Mereka menciptakan musuh tetapi tidak menciptakan teman. Ini pun orang-orang berkekurangan dan hal ini menunjukkan bahwa mereka kekurangan sifat-sifat positif manusia. Hal ini dikarenakan jika mereka memiliki kualitas manusiawi otomatis mereka akan mempunyai kelompok meskipun hanya sangat sedikit yang menjadi pendukung dan terikat dengan mereka. Bahkan seandainya pun semua orang tidak berharga dan zalim, permusuhan mereka akan menjadi bukti kebenaran dan keadilan. Tetapi mustahil semua orang jahat, sebagaimana mustahil semua orang baik. Secara alamiah, keburukan pada diri seseorang yang memusuhi setiap orang, terdapat dalam dirinya sendiri, karena kalau tidak demikian bagaimana mungkin ada kebaikan dalam jiwa manusia. Bahkan dalam aspek-aspek setan dalam pribadi mereka asam sepenuhnya dan asam bagi setiap orang. Ali bin Abi Thalib berkata oprang yang paling lemah adalah orang yang paling sanggup mendapatkan teman, dan yang lebih lemah adalah orang yang kehilangan teman dan tinggal sendirian.

Baca Juga :  Sebuah Pesan di Pagi yang Gila

Ketiga, orang yang menarik dan menolak. Mereka adalah orang-orang yang berjalan pada suatu jalan kebenaran yang bertindak pada jalan keyakinan dan prinsip-prinsipnya. Mereka menciptakan sahabat maupun perselisihan. Dalam hal ini haruslah diperhatikan jenis manusia yang bagaimana yang tertarik dan tertolak. Misalnya, kadang-kadang orang terhormat dan beradab tertarik dan orang-orang jahat dan keji tertolak.

Dan seperti yang telah di tunjukkan, ada perbedaan lain dalam kuatnya gaya tarik. Sebagaimana dalam teori gravitasi Newton gaya tarik menarik membesar sebanding dengan massa suatu benda dan berbanding balik dengan jarak. Demikian juga pada manusia ada variasi dalam gaya tarik yang berasal dari individu yang mempunyai gaya tarik itu.

Oleh : Irmawati
Aktivis Perempuan Palopo, Mahasiswa Universitas Cokroaminoto Palopo

Written by 

Related posts

Komentar