Manusia Teknis Versus Makhluk Filosofis

3.6kViews

Para sejarawan meyakini, kemampuan teknik manusia sudah dimiliki ketika manusia mulai menyadari dirinya dan lingkungannya. Itu artinya, sejak manusia hidup pertama kali dan membangun jarak dengan alam, kali pertama itulah momen teknologi tercipta. Bahasa adalah teknologi paling dini diciptakan manusia sebagai alat komunikasi, seturut kemudian alat-alat berburu dipakai demi mengefesienkan tenaga saat mencari sumber-sumber makanan.

Setelah masa mengumpulkan (food gathering), berburu (hunting), dan menetap (cultura), teknologi manusia berkembang demikian cepat dari mode live centered (kebutuhan manusia) menjadi power centered (kekuasaan manusia). Alih-alih sekadar memenuhi kebutuhan tersier sebagaimana nenek moyang umat manusia menggunakannya, kiwari, alat teknologi merambah jauh sampai dipakai sebagai alat kebutuhan perang.

Singkatnya, tidak ada satupun dimensi praksis manusia lekang dari alat-alat teknologi. Bambang Sugiharto menyatakan dengan cara sederhana: teknologi berada ”di dalam” tubuh (teknologi medis, makanan kimiawi, dsb.), ”di samping” tubuh (handphone, komputer, dsb.), “di luar” tubuh (satelit, pesawat, dsb), menjadi ”tempat tinggal” (rumah ber-Ac, listrik), ”kepanjangan” tubuh (kacamata, sepatu, kendaraan, dsb.).[1]Hubungan demikian inheren ini, pada taraf tertentu mengakibatkan terjadinya reposisi antara manusia dan alat-alat teknologi itu sendiri. Dalam berbagai film sains fiksi semisal The Matrix (1999), I Robot (2004), Her (2013), Transcendence (2014), tegangan manusia dan ciptaannya berupa mesin-mesin teknologi diceritakan saling mengambil peran dalam hal siapa membentuk siapa. Dalam ranah budaya, meski hubungan manusia dan teknologi sering berisiko, keduanya menduduki posisi hampir sama dalam membentuk kebudayaan manusia.

Dengan kata lain, pandangan dunia, nilai-nilai, dan perilaku manusia, merupakan wilayah dinamis hasil dialektika antara manusia dan benda ciptaannya.

”Kegemukan” dari Wall E

Wall E (2008) termasuk film lawas yang masih saya ingat karena banyak memaparkan risiko-risiko pencapaian umat manusia yang disokong teknologi canggih. Bumi diceritakan tidak layak huni, dan mendesak umat manusia hijrah tinggal menetap melayang-layang di luar angkasa menggunakan pesawat super gede berteknologi canggih. Saat itu, bukan saja mengalami krisis ekologi ekstrem, Wall E menceritakan semua daratan muka bumi telah dipenuhi bukit sampah elektronik setinggi gedung pencakar langit. Satu-satunya kehidupan manusia dalam film itu, sebagaimana yang ada di dalam pesawat raksasa super canggih bernama Axiom.

Baca Juga :  Sehimpun Esai yang Tak Biasa

Risiko relasi teknologi dan manusia dalam adegan film ini gamblang terlihat ketika menengok kehidupan manusia di dalam pesawat Axiom. Di dalam pesawat ini, kecanggihan teknologi robotik sudah mencapai tingkat maksimum ditandai dari tidak ada satupun praksis manusia yang lepas dari robot-robot canggih. Manusia hanya duduk di atas panel kursi canggih dan menunggu hasil analisis kecerdasan IT untuk menggantikan aktifitas berupa menonton, membaca buku, dan makan.

Risiko paling harfiah ketika semua pekerjaan manusia diambil alih oleh robot adalah kegemukan. Karena hanya duduk di atas kursi, manusia dalam pesawat Axiom kehilangan pengalaman spasialnya. Akibatnya, tubuh kehilangan kemampuan gerak membuat penumpukan lemak dalam tubuh mereka. Ciri utama seluruh manusia yang hidup dalam pesawat Axiom digambakan dalam film ini bertubuh gemuk dan doyan makan. Jika menghitung sudah berapa lama pesawat Axiom melayang di luar angkasa dari pertama kali lepas landas di abad 22, sampai menciptakan ”generasi gemuk” dalam pesawat di tahun 2815, maka umat manusia di pesawat itu sudah hidup di

luar angkasa selama 7 abad. Itu artinya, selama 7 abad lamanya mereka mewarisi kegemukan dari generasi sebelumnya.

George Ritzer, sosiolog kawakan dari Universitas Maryland, Amerika Serikat, dengan nada menyerupai pesan di atas, melihat ”peradaban gemuk” akibat apa yang ia sebut sebagai McDonaldisasi. McDonalisasi diuraikan Rizter dari ciri rasional manusia modern yang  mengedepankan empat dimensi berupa efisiensi, kemampuan memprediksi, kuantitas dibanding kualitas, dan tekonologi robotik.[1] Contoh terang dari keempat dimensi rasio manusia ini adalah restoran cepat saji seperti McDonald.

Baca Juga :  Socrates, Diogenes, dan Kegilaan

Jadi, diuraikan Ritzer, jika Anda membeli makanan cepat saji, Anda memenuhi empat kriteria di atas untuk menghemat tenaga dengan dalih efisiensi, menolak ketakmungkinan dengan menu yang tetap sama setiap hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, menyenangi ke-massal-an karena banyak orang makan makanan yang sama dengan Anda, dan terakhir, Anda menjadi robot oleh sebab Anda diarahkan berdasarkan tata cara membeli dari mulai antri berdiri di hadapan kasir sampai Anda ke meja makan.

Ujung penjelasan Ritzer ini akan kita temui ke dalam fenomena masyarakat konsumtif yang membuat makan tidak sekadar hanya aktifitas pemenuhan kebutuhan biologis semata, melainkan dinyatakan juga sebagai aktifitas mencari kesenangan. Puncak dari fenomena ini, seperti melalui Wall E, adalah lahirnya generasi masyarakat yang mengalami obesitas atas tubuh mereka. Tubuh di zaman sekarang bukan lagi semata-mata sebagai perpanjangan aktivitas berpikir, tapi berubah menjadi objek hasrat konsumtif.

Kursi Malas dan Makhluk Filosofis

Tokoh utama Wall E sebenarnya adalah sebuah robot usang pekerja sampah. Ia diset perusahaan penciptanya untuk bekerja membersihkan sampah elektronik di bumi.

Ketika manusia pergi berbondong-bondong hidup di luar angkasa, tinggallah Wall E bekerja sendirian, satu-satunya robot yang masih ”hidup” setelah robot pekerja terakhir ”mati” dari berabad-abad lalu.

Karakter Wall E dan kehidupan manusia di dalam pesawat Axiom bergerak ambivalen. Wall E walaupun terbuat dari platinum baja dia memiliki kecenderungan untuk mencari tahu segala hal. Ia diceritakan sebagai makhluk yang berpengetahuan terbuka dan suka merenung ketika menemukan benda-benda yang baru pertama kali dilihatnya. Seperti ketika ia menemukan kaset pita dari tahun 60-an, yang membuat ia menjadi makhluk sejarah yang mengenang kehidupan bumi sebelum dikepung robot-robot berteknologi canggih.

Baca Juga :  Menulis dari ”Rumah”

Satu kelebihan fundamental robot Wall E dibanding manusia yang hidup di dalam Axiom adalah ia diberkahi kemampuan bergerak kemana pun ia mau. Dengan bekal kaki beroda ala tank-nya ia dapat berkeliling melihat setiap sudut tumpukan sampah kemana pun ia ingin. Bertolak belakang dari itu, manusia sudah lama tinggal di atas pesawat Axiom kehilangan pengalaman bergeraknya hanya karena duduk terkapar mengikuti rel-rel panel yang dikontrol kecerdasan artifisial.

Manusia Teknis

Robot Wall E yang berhasrat ingin tahu dan manusia gemuk di atas kursi Axiom, merupakan dua kecenderungan dalam mengemukakan dua tipikal kesadaran manusia, yakni kesadaran teknis dan kesadaran filosofis. Kesadaran teknis seperti menjadi kesimpulan para sosiolog adalah jenis kesadaran yang didorong rasio intsrumental demi meraih kepentingan-kepentingan teknis formal belaka. Jenis kesadaran ini bakal mewujudkan suatu model kemanusiaan teknis dikontrol alat-alat seperti dicontohkan kehidupan kiwari.

Sementara kesadaran filosofis, seperti dicontohkan Wall E, merupakan jenis kesadaran yang mendorong umat manusia senantiasa mencari tahu dan berusaha meraih kedalaman-kedalaman refleksi dari dan peristiwa sehari-hari. Alih-alih tenggelam di dalam kebudayaan teknologis instrumentalistik, kesadaran filosofis-lah yang bakal menyelamatkan manusia dari kepungan kehidupan artifisial alat-alat teknologi. 

Wall E dan film sejenisnya, walaupun merupakan narasi fiksi, tetap menarik dan relevan bagi kehidupan sekarang. Banyak kesimpulan-kesimpulan dari film ini yang menantang untuk dibicarakan kembali, terutama kemungkinan peradaban manusia yang tengah memacu setiap lini kehidupannya menggunakan teknologi robot canggih.

Akhirnya, masih banyak etape kehidupan manusia yang bakal menyisakan tanda tanya dari pertemuan sengit antara kecanggihan teknologi dengan dimensi luas kehidupan manusia di masa akan datang. Buku-buku sejarah masih akan terus ditulis, salah satunya tentang persaingan panjang antara manusia dan teknologi ciptaannya.

Catatan kaki


[1]Budi Hartanto, Dunia Pasca Manusia, Menjelajahi Tema-Tema Kontemporer Filsafat Teknologi, (Depok, Kepik, 2013), hal. X.

[2] George Ritzer-Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, Edisi Keenam, (Jakarta, Prenada Media), hal. 565.


Oleh: Bahrul Amsal
Blogger dan bergiat di Kelas Literasi dan Paradigma Institute Makassar

Written by 

Related posts

One Thought to “Manusia Teknis Versus Makhluk Filosofis”

  1. […] Baca Juga : Manusia Teknis Versus Makhluk Filosofis […]

Komentar