Sehimpun Esai yang Tak Biasa

2.1kViews

Sebuah esai pada hakikatnya adalah sebuah pengakuan. Namun sudah tentu ia bukan sesuatu yang hanya merekam hal-hal yang bersifat otobiografis saja, demikian Goenawan Mohammad pada prakata kumpulan esainya berjudul Potret Panjang Seorang Penyair sebagai si Malin Kundang. Goenawan memang tidak meneruskan bahwa pada esai ada muatan-muatan sosiokultural sangat penting diketahui. Itulah “muatan” dari esai,  selain dari bentuknya yang ringan dan bebas.

Demikian halnya dengan kumpulan esai Bertahan di Tengah Gempuran Budaya Massa ditulis oleh Andi Oddang to Sessungriu. Nilai-nilai sosiokultural yang otobiografis itu—kemudian  dalam pembahasan ini kita sebut sebagai nilai-nilai lokalitas menjadi warna cerah yang eksklusif. Lantaran hampir semua esai dalam buku ini, membicarakan masalah lokalitas budaya Bugis yang memang jarang diungkap.

Melalui kumpulan esai ini, kita dapat membaca bahwa penulis tidak berperan sebagai ahli “budaya”. Juga dalam posisinya sebagai penulis esai ia bukan seorang akademisi yang menerapkan sebuah teori atau pendekatan tertentu; semisal analisis strukturalisme ala Levi-Strauss yang melihat kaitan-kaitan tetap antara satu gelaja (nilai) budaya dengan gejala budaya lainnya berdasarkan observasi penelitian. Atau mencoba mengaitkan satu tanda (sign) yang muncul dari sebuah peristiwa budaya yang lebih luas dengan tanda atau gejala budaya lainnya.  Dikaitkan dengan penerimaan masyarakat dalam sebuah metode yang lazin disebut sebagai analisis semiotika. Saya melihat penulis buku ini, lebih berposisi sebagai seorang pelaku budaya –dalam kapasitas tersebut bertutur tentang kebudayaannya sendiri. Sebuah kebudayaan eksklusif Bugis lantaran memiliki daya tarik yang khas, kontekstual, dan belum banyak dikenal .

Baca Juga : LA PESTE DAN CORONA

Budaya Bugis memang sudah banyak ditulis dan diteliti dan dibicarakan oleh para ahli budaya. Sebutlah nama-nama budayawan Bugis yang pandangannya dapat dijadikan referensi ilmiah seperti Prof. Dr. Mattulada, Prof. Dr. Abu Hamid, Prof.Dr. Rahman Rahim, Prof.Dr. Fahruddin AE, Prof. Dr. Nurhayati Rahman sampai kepada pakar budaya berkebangsaan asing seperti Christian Pelras. Akan tetapi pada umumnya para ahli dan budayawan meletakkan Budaya Bugis sebagai “objek” penelitian. Karena itu, kajian-kajian atau analisis mereka pun dapat disebut sebagai kajian ilmiah. Kajian mereka disusun secara sistematis, kompleks, logis, empirik, dan replikatif dalam artian harus dapat diuji kembali untuk memperoleh hasil yang sama dan akurat. Mereka menganut pola tertentu yang dapat dipertanggungjawabkan dengan prosedur penalaran induktif. Logika menjadi kata kunci dari hasil kajian ilmiah mereka.

Baca Juga :  LA PESTE DAN CORONA

Lain halnya sehimpun esai Bertahan di Tengah Gempuran Budaya Massa, ia memandang kebudayaan tidak sebagai “objek”, melainkan sebagai “subjek”. Subjeklah yang menggerakkan daya-daya kreatif sang penulis sehingga sebuah esai tidak memerlukan lagi prosedur studi ilmiah. Karena itu, sifat sebuah esai budaya seperti kata Arif Budiman dalam esainya tentang esai, bahwa sebuah esai bukanlah studi ilmiah yang baku, penuh kehati-hatian dan tanggung jawab ilmiah yang menekan. Sebuah esai hanya mempermasalahkan sesuatu sepanjang merangsang hati penulisnya.  Karena itulah sebuah esai  tentang apa pun juga kadang terasa sangat subjektif dan bahkan banyak pula yang ditulis dalam gaya naratif-prosais seperti cerpen: lengkap dengan unsur intrinsik seperti, plot, setting, dan dialog para pelaku.

Bertahan di Tengah Gempuran Budaya Massa pun demikian. Sebagai buku kumpulan esai, buku ini telah memiliki syarat esai yang baik: berbentuk prosa yang menghindari gaya penulisan ilmiah, memiliki style sebagai pembeda yang khas penulisnya, selalu tidak utuh dalam artian penulis hanya mengupas segi-segi yang penting saja namun tetap memiliki kesatuan seperti pendahuluan, isi dan penutup. Di samping itu, ditulis dengan singkat; maksudnya setiap esai dapat dibaca dengan santai dalam satu kesatuan waktu yang singkat (sekali duduk) dan tidak memiliki hubungan kausalitas dengan esai-esai lainnya meskipun dalam buku itu memiliki tema yang sama sebagai benang merah yang menghubungkannya.

***

Jika kita menganut pandangan klasik seperti yang diperkenalkan oleh Wellek and Warren dalam buku sucinya  Theory of Literature, tiap tulisan (sastra) memang dapat dinilai pada dua segi. Yang pertama segi  bentuk yaitu bagaimana esai itu ditulis. Syarat-syarat esai yang baik yaitu ringan, menggunakan bahasa yang sederhana sedapat mungkin menghindari bahasa figuratif,  hanya membicarakan hal-hal yang penting saja, dan terutama memiliki ciri khas kepenulisan. Dan yang kedua segi isi yaitu apa yang menjadi muatan dari esai itu.

Baca Juga :  Dari Scola ke Keluarga: Siasat Bertahan Era Korona

Bertahan di Tengah Gempuran Budaya Massa buku ini isinya sangat jelas bermutan nilai-nilai lokalitas budaya Bugis yang eksklusif,  eksotis dan kontekstual. Sebuah muatan esai yang belum banyak diungkap oleh penulis lain. Budaya Bugis memang sudah banyak diungkapkan dalam tulisan-tulisan ilmiah, tetapi sadda ininnawa—demikian diistilahkan oleh Andi Oddang—belum  banyak disuarakan oleh penulis lain sebelumnya.

Menyuarakan sadda Ininnawa budaya Bugis ini memang tidak cukup hanya dengan penelitian atau studi menjadikan budaya Bugis sebagai “objek”. Sadda Ininniwa memang selayaknya keluar dari suara subjek. Sang penulis seperti disebutkan sebelumnya bukanlah ahli budaya, tetapi pelaku budaya. Dalam biografinya disebutkan bahwa ia adalah salah seorang anggota Dewan Adat 12—Ade’ Seppulo Dua—termuda di Kedatuan Luwu, selaku Opu Matoa Cendana. Menjadi Dewan Adat tentu saja syarat-syaratnya tidak umum. Tetapi eksklusif, yaitu hanya orang yang memiliki garis keturunan raja di Kedatuan Luwu saja yang dapat menjadi anggota. Artinya hanya para pelaku budaya lokalitas itu saja yang menjadi anggota, seperti juga keanggotaan organisasi abdi dalem  di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Dengan demikian, sebagai “subjek” dari budaya lokalitas Bugis, menyangkut silsilah keturunan raja-raja, strata sosial, gender, adat-istiadat, busana dalam panggadereng (pakaian adat), etika moral, sampai kepada bentuk-bentuk sastranya Lagaligo sebagai sebuah tradisi, penulis sudah mengalaminya secara ontologis maupun epistemologis. Penulis  tidak perlu lagi didukung oleh serangkaian penelitian, studi dan sebagainya. Dan ketika ia telah mengalami pula serangkaian pendidikan sastra modern maka semuanya dengan enteng dapat pula dituturkannya kembali dalam bentuk esai dan itu telah dilakukan oleh penulis buku ini.

Baca Juga :  Sajak Kemanusiaan dari Bangsa-Bangsa Empatik

Saya tidak mengupas secara detil dan tuntas isi kumpulan esai ini, karena saya kira tak ada yang memerlukan jembatan untuk sampai kepada pemahaman dari muatan esai yang dituturkannya. Andi Oddang telah menuturkannya dengan gamblang dalam gaya bahasa yang tak pelik dan mengerutkan dahi. Semua esai dalam buku ini telah ditulis dalam gaya bertutur yang “sebebas-bebasnya” hingga gurih dibaca tanpa perlu sebuah ulasan lagi.

Saya ingin mengatakan bahwa buku ini, memang sebuah tuturan seorang “subjek” tentang lokalitas budaya Bugis yang eksklusif, eksotis dan kontekstual yang tidak semua etnis perlu memahaminya. Ada hal-hal yang sifatnya hanya perlu dipahami oleh kalangan etnis Bugis saja sehingga tidak perlu dieksploatasi keluar jika hanya sebagai sebuah kebanggaan identitas. Esai terakhir dari buku ini berjudul Cinta dan Kearifan cukup mengesankan. Ia bertutur tentang Hikayah Kalilah wa Dumnah, yang alegoris untuk menunjukkan bagaimana sebenarnya memelihara budaya Bugis dengan cinta (dengan C besar) dan kecerdasan (kearifan). Cinta tanpa kecerdasan hanya akan membuat malu sebuah keluarga besar. Seperti juga cerita tentang seorang kakak dan adik yang bertengkar bagaimana memasak kapurung makanan khas orang Luwu. Semestinya sang kakak mengajari sang adik dengan rasa cinta dan kecerdasan dan bukannya mengadu ke pihak luar, yang dapat membuat malu orang tua. Karena hal-hal yang demikian mestinya diselesaikan dalam dapur saja.

Demikianlah esai-esai yang ditulis oleh Andi Oddang—seorang turunan Raja Luwu dengan gelar To Sessungriu—yang bebas, jauh dari tekanan ilmiah, subjektif, gurih dibaca, dan cerdas, tetapi tetap otentik dan dapat menjadi percikan awal dari penelitian lanjutan tentang nilai-nilai Budaya lokalitas Bugis. Sebagai esai yang bebas, sebagaimana juga pembahasan yang bersifat esais ini, semuanya memang perlu sebuah kata penutup, yaitu Wallahua’lamu bissawab. Dan itulah pula yang menjadi ciri khas kata penutup dari semua esai dalam buku ini.

Oleh Badaruddin Amir
Satrawan dan Budayawan Sulsel

Written by 

Related posts

Komentar