Anak dan Bagaimana Kita Mendidik

1.4kViews

Mari mendidik anak dengan cinta
—Kak Seto—

Berbicara tentang dunia pendidikan memang selalu menarik dan penting. Seorang peneliti bernama Glenn Doman dalam bukunya Your Baby is A Genius menyampaikan hasil penelitiannya bersama para pakar. Penelitian ini didorong atas kertarikannya menemukan solusi pada masalah tumbuh kembang anak yang menurutnya bisa diberikan stimulus maksimal. Doman menghabiskan 40 tahun untuk meneliti perkembangan anak yang mengalami cedera otak. Doman kemudian menyampaikan bahwa anak yang mengalami cedera otak pun bisa berkembang dengan baik ketika mendapatkan stimulus yang baik, dan anak lain pada umumnya semestinya juga akan berkembang jika mendapatkan stimulus yang tepat.

Kemudian, pakar lain yang  teorinya telah menjadi sumber referensi favorit praktisi pendidikan dunia yaitu Howard Gardner di dalam bukunya Multiple Intelligences: New Horizon, menyampaikan kritik terhadap temuan seorang psikolog yang terkenal bernama Alfred Binet. Di mana Binet mempopulerkan hasil temuannya untuk mengukur kecerdasan manusia dengan alat ukur yang dia namakan “Tes Kecerdasan” atau lebih dikenal dengan istilah “Tes IQ (Inteligence Quotient)” kemudian versi lain yang memiliki kemiripan dinamakan SAT. Pada awalnya IQ test ini disebut Sholastic Aptitude Test, dengan perubahan akronimnya menjadi Scholastic Assesment Test. Kedua alat test ini memberikan ukuran kecerdasan dengan angka-angka kuantitatif.

Kritik yang disampaikan oleh Gardner diawali dengan pertanyaan sederhana, disadarikah keberadaan pemain catur super brilian, pemain biola kelas dunia, dan atlit champion; yang pastinya, mereka adalah sosok-sosok yang patut mendapatkan pertimbangan untuk kecerdasan istimewa. Apakah kecerdasan pemain catur, pemain biola, dan atlit ini masuk dalam pencapaian ini? Jika iya, lalu mengapa tes kecerdasan gagal mengidentifikasi kecerdasan mereka? Jika mereka tidak cerdas (baca: intelek), apa yang menjadikan mereka hebat dalam mencapai keberhasilan?

Jika Gardner menyampaikan kritiknya dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang relevan dengan fenomena di masyarakat kita, maka mungkin kita juga bisa kembali menalar makna ayat 4  surah At-Tiin:

  لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

Artinya: Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Jika Tuhan Sang Maha Pencipta dipersaksikan sebagai Tuhan Yang Maha Sempurna, Yang Maha Benar dengan segala firman-Nya, lalu mengapa manusia meragukan kesempurnaan dan  keadilan Tuhan Yang Maha Adil? Mengapa manusia menjadi tak adil dengan mengkotak-kotakkan manusia cerdas dan manusia bodoh? Bukankah Tuhan yang menjamin bahwa ciptaannya Maha Sempurna, sehingga tidak ada satu pun hasil cipta Tuhan yang gagal?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana di atas, bisa menjadi renungan kita sebagai orang tua yang sekaligus diberikan amanah menjadi pendidik utama dalam keluarga. Apakah tuntutan kita terlalu tinggi? Ataukah kita mengharapkan anak kita menjadi fotokopi diri kita? Apakah kita hanya memberikan tuntutan terhadap anak agar menghadiahkan piala demi kebanggaan prestisius orangtuanya meski anak harus berurai air mata dalam tekanan beratnya? Ataukah kita menganggap bahwa anak kita bukanlah amanah yang membahagiakan tapi malah sebagai beban?

Jawaban atas pertanyaan di atas bisa ditemukan oleh orang tua yang tak boleh berhenti mencari cara dan belajar pola-pola pendidikan dan pengasuhan positif, baik yang sumber utamanya dari kitab suci maupun dari literatur-literatur pendidikan revolusioner. Topik pendidikan anak selalu menarik untuk dibicarakan. Pola pendidikan dan pengasuhan yang memberikan panduan mengenali sifat bawaan anak, manajemen emosi orang tua dan anak, manajemen stress keluarga, teknik komunikasi dalam keluarga, panduan kemelekatan anak dan orang tua, manajemen konflik, penerapan disiplin positif dan teknik pendampingan anak. Kesemuanya semakin mudah diakses dalam bentuk teks digital maupun buku-buku praktis yang melimpah. Namun tetap saja pada praktiknya orang tua masih saja banyak yang mengaku stress dan meluapkan ketidakpuasan pada dirinya dengan kemarahan yang tak terkendali terhadap anak dan keluarga.

Di tengah pandemi yang dirasakan dampaknya oleh semua pihak, salah satu masalah yang banyak diperbicangkan di masyarakat adalah tantangan mengajar anak di rumah untuk menyelesaikan sisa kurikulum dengan sistem belajar daring. Dalam penerapannya, orangtua menyampaikan bahwa tidaklah mudah menjadi guru bagi anak-anak dengan segala tantangan dan permasalahan di tengah perubahan yang ekstrim. Apatah lagi karena kita masih menganggap bahwa anak cerdas adalah anak yang pintar menghitung, membaca, dan menulis, sebagaimana Binet menggiring cara pikir tersebut selama 116 tahun lamanya. Sehingga anak harus mendapatkan angka sempurna dan tidak akan mendapatkan senyuman indah dan pelukan hangat jika anak gagal membanggakan orang tuanya dengan nilai A atau 100, ditambah  permasalah turunan yang membentuk  lingkaran negatif tanpa jalan keluar.

Pemaparan menarik disampaikan oleh Najeelah Shihab, seorang psikolog yang saat ini menjadi inisiator pendidikan pengasuhan “Keluarga Kita” dalam sesi webinar yang diselenggarakan oleh Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, pada hari Rabu, tanggal 24 Juni 2020, menyampaikan 5 emosi orangtua yang secara umum terjadi saat mendidik anaknya di rumah: (1) Saya marah, karena anak saya tidak mengerjakan PR-nya. (2) Saya tidak enakan, kalau hasil gambarnya tidak bagus. (3) Saya khawatir kalau anak saya main di luar, nanti kotor. (4) Saya ingin mendapat pengakuan, walaupun anak saya sibuk anak saya harus berprestasi. (5) Saya merasa bersalah, anak saya tak mau  saya gendong, pasti karena saya jarang di rumah.

Ketika orang tua mampu mengidentifikasi masalah-masalah yang terjadi dan penyebab utama konflik dalam keluarga, maka akan lebih mudah menemukan solusi terbaik yang bisa dikomunikasikan bersama orang tua dan anak, sehingga anak tumbuh sehat, bahagia, dan cerdas bermanfaat. Tugas utama orang tua bukan semata memenuhi kebutuhan primer seperti rumah yang nyaman, pakaian bagus, dan makanan yang enak dan bergizi. Tugas termulia itu adalah secara lebih utuh memastikan terpenuhinya kebutuhan dengan pendekatan Holistic.  

Oleh: Mazra Yasir
Pegiat Pendidikan
dan PUSPAGA Kab. Luwu

Written by 

Related posts